Friday, April 24, 2015

Kisah Inspiratif

Lahir dari keluarga sederhana yang tinggal di sebuah kecamatan terpencil di selatan Pulau Sumbawa, masih ingat bagaimana PLN saat itu hanya menyala di malam hari saja.
Saat itu saya baru saja lulus SMP ketika berumur 14 tahun, terlalu muda memang karena saat itu masuk SD ketika berumur 5 tahun dan tanpa melalui sekolah TK.
Awalnya setelah lulus SMP ingin melanjutkan ke SMU di Kabupaten yang jaraknya sekitar 99 km dari kampung, tapi karena umur masih terlalu muda dan postur mungil, Orang tua menyarankan sekolahnya ditunda dulu sampai berumur 15 tahun karena harus hidup mandiri dan jauh dari orang tua.

Disanalah cerita bermula sebuah perjalanan hidup yang tidak diduga membawa saya hingga berkarir seperti sekarang ini.
Kami tinggal disebuah perkampungan transmigran, tidak jauh dari rumah ada pendatang dari Banyuwangi- Jawa Timur melakukan usaha pembuatan gula merah dari tuak kelapa. Ada beberapa orang waktu itu diantaranya Pak Yadi, Pak Zarkasi, Pak De dan beberapa orang yang masih lajang.
Membuat gula adalah pekerjaan berat dan beresiko jatuh dari ketinggian pohon kelapa. Tidak tau ada angin apa yang membuat saya tertarik pada pekerjaan beresiko, dan akhirnya saya memberanikan diri untuk menyampaikan niat ikut bekerja dengan Pak Zarkasi dan akhirnya niat saya dikabulkan, mulailah saya bekerja selama 9 bulan dengan pak Zarkasi.
Tugas yang sangat berat, setiap hari harus menurunkan tuak sekitar 25-30 pohon setiap hari, pagi dan sore saya lakukan dengan senang hati, tidak berhenti hanya menurunkan tuak saja setelah itu harus memasak tuak yang sudah diturunkan hingga menjadi gula merah. Setelah gula merah dicetak saya bersiap-siap untuk memanjat kelapa di sore hari sekitar pukul 16 hingga selesai.
Kisahnya dapat anda baca pada artikel sebelumnya disini.

Setelah 9 bulan berlalu timbul niat saya untuk membuat gula merah sendiri, dengan berat hati saya sampaikan niat itu kepada Pak Zarkasi dan akhirnya niat saya beliau setujui.
Mulailah saya bersama kakak tertua melakukan usaha ini sekitar 1,5 tahun yang rela mengorbankan waktu bermain dengan berwira swasta, lumayan hasilnya waktu itu dibelikan sepeda motor, mesin pemarut kelapa dan sepetak tanah di pinggir jalan.
Tidak terasa sudah 2 tahun Tamat SMP artinya molor 1 tahun dari niat awalnya akan melanjutkan ke SMU.

Lunyuk adalah sebuah kecamatan yang sangat luas tanpa memiliki sekolah SMU waktu itu, akhirnya muncul penggagas ide untuk mendirikan SMU perintis dan akhirnya beberapa teman yang sudah lulus beberapa tahun pun kembali belajar di sekolah SMU tersebut. Ternyata perjalanan sekolah tersebut hanya bertahan 2 catur wulan dan akhirnya bubar karena guru honorer ketika itu melanjutkan studi sehingga banyak kekosongan mata pelajaran yang membuat siswa siswi saat itu mengalami kejenuhan.
Tidak menyia-nyiakan waktu akhirnya saya sendiri mulai mendaftarkan diri untuk sekolah di SMU favorit di Sumbawa dan total saya sudah menganggur selama 4 tahun dan usia saat itu sudah 18 tahun (harusnya sudah lulus SMU) dan akhirnya 3 tahun kemudian disaat usia sudah 21 tahun lulus SMU dan melanjutkan kuliah ke AKPAR Mataram D1 dan lulus 1 tahun berikutnya.

Disinilah awalnya kenapa saya bisa bekerja di industri perhotelan. Karir hotel pertama saya adalah Holiday Inn Resort Lombok, karena ajakan atasan akhirnya pindah ke Garden City Hotel (sekarang Swiss-Belhotel tarakan) lalu berturut-turut ke The Pade Hotel Aceh, Aston Tanjung City Hotel, Swiss-Belhotel Silae Palu dan Swiss-Belhotel Maleosan Manado. Tidak terasa sudah belasan tahun berkarir di hotel, banyak pengalaman yang diperoleh bisa bertemu dengan banyak orang dengan karakter yang beraneka ragam.
Resume dari perjalan hidup dari seorang pembuat gula menjadi profesional hotel adalah kerja keras, doa , restu Orang Tua dan usaha sehingga apa yang kita inginkan akan tercapai. Kita memang tidak bisa memprediksi apa yang terjadi kemudian tapi kitalah yang menentukan mau dibawa kemana perjalan hidup kita.
Pendidikan sangat dominan mempengaruhi apakah hidup kita nanti sukses atau tidak.

2 comments:

  1. Replies
    1. lika liku kehidupan, orang susah yang masih saja tetap susah wkwk

      Delete